Rabu, 05 November 2014

Fakta Ilmiah Mengejutkan tentang Relasi Uang dan Kebahagiaan

Fakta Ilmiah Mengejutkan tentang Relasi Uang dan Kebahagiaan



Money can’t buy happiness. Begitu sebuah kata mutiara pernah terdengar. Apakah memang demikian adanya?


Tulisan kali mencoba menjelajah hasil studi saintifik yang mengulik
relasi rumit antara uang dan kebahagiaan. Dan seperti yang sebentar lagi
akan kita baca, hasilnya menyodorkan jawaban yang mengejutkan.


Kebahagiaan adalah sebuah tema penting dalam hidup. Uang juga
merupakan elemen krusial dalam kehidupan. Maka mari di pagi yang cerah
ini kita telusuri dua tema penting ini : uang dan kebahagiaan.


Studi empirik yang mencoba melacak korelasi uang dan kebahagiaan
sejatinya telah banyak dilakukan. Salah satunya yang terkenal, dilakukan
oleh Daniel Kahneman, pakar ilmu “financial psychology” yang juga
pemenang nobel ekonomi 2002.


Dalam risetnya itu ia menemukan fakta yang dikenal dengan istilah : income threshold. Inilah titik batas income yang akan menentukan apakah uang masih berdampak pada kebahagiaan atau tidak.


Sebelum income menembus titik threshold itu, maka uang punya peran
signifikan dalam menentukan kebahagiaan. Namun begitu income sudah
menembus batas threshold itu, maka uang tidak lagi punya makna dalam
menentukan kebahagiaan.


Lalu berapa titik income threshold itu? Dalam kajiannya yang
melibatkan ribuan responden di USA, angka batas income itu adalah USD
6000 per bulan.


(Dengan mempertimbangkan perbedaan biaya hidup, mungkin angka USD
6000 itu ekivalen dengan angka Rp 15 – 20 juta per bulan, jika diubah
dalam konteks Indonesia).


Penelitinya menulis : sebelum income menembus angka USD 6000 per
bulan, uang punya peran besar dalam menentukan level kebahagiaan
seseorang. Faktanya, beragam studi lain menyebut bahwa kondisi finansial
yang terbatas merupakan salah satu pemicu utama stress dan depresi.


Namun, begitu income responden melampaui USD 6000, maka peran uang
dalam membentuk kebahagiaan makin pudar dan pelan-pelan lenyap.


Artinya, orang dengan income USD 6500 misalnya akan memiliki level
kebahagiaan yang tidak berbeda dengan orang dengan income USD 60.000 per
bulan atau bahkan USD 6 juta per bulan.


Dalam konteks itulah benar jika ada yang menyebut : semakin kaya Anda, belum tentu makin bahagia. Studi Kahneman menegaskan : makin tinggi income Anda, ternyata justru makin menurunkan peran variabel uang dalam menentukan kebahagiaan.


Pertanyaannya : kenapa makin tinggi income seseorang, ternyata makin menurunkan peran uang dalam membentuk kebahagiaan?


Kajian-kajian dalam ilmu financial psychology menemukan jawabannya, yang kemudian dikenal dengan nama “hedonic treadmill”.


Gampangnya hedonic treadmill ini adalah seperti ini : saat gajimu 5
juta, semuanya habis. Saat gajimu naik 30 juta per bulan, eh semua habis
juga.


Kenapa begitu? Karena ekspektasi dan gaya hidupmu pasti ikut naik, sejalan dengan kenaikan penghasilanmu.


Dengan kata lain, nafsmu untuk membeli materi/barang mewah akan terus
meningkat sejalan dengan peningkatan income-me. Itulah kenapa disebut
hedonic treadmill : seperti berjalan diatas treadmill, kebahagiaanmu
tidak maju-maju. Sebab nafsu-mu akan materi tidak akan pernah
terpuaskan.


Saat income 10 juta/bulan, naik Avanza. Saat income 50 juta/bulan
naik Alphard. Ini mungkin salah satu contoh sempurna tentang jebakan
hedonic treadmill.


Hedonic treadmill membuat ekspektasimu akan materi terus meningkat.
Itulah kenapa kebahagiaanmu stagnan, meski income makin tinggi. Sebab
harapanmu akan penguasaan materi juga terus meningkat sejalan kenaikan
income-mu.


Ada eksperimen menarik : seorang pemenang undian berhadiah senilai Rp
5 milyar dilacak kebahagiaannya 6 bulan setelah ia mendapat hadiah.


Apa yang terjadi ? Enam bulan setelah menang hadiah 5 milyar, level
kebahagaiaan orang itu SAMA dengan sebelum ia menang undian berhadiah.


Itulah efek hedonic treadmill : karena nafsumu terus meningkat,
kebahagiaanmu seolah berjalan di tempat, meski income melompat 10 kali
lipat. Atau bahkan dapat hadiah 5 milyar.


Jadi apa yang harus dilakukan agar kita terhindar dari jebakan
hedonic treadmill? Lolos dari jebakan nafsu materi yang tidak pernah
berhenti?


Disinilah relevan untuk terus mempraktekan gaya hidup yang minimalis
yang bersahaja : sekeping gaya hidup yang tidak silau dengan gemerlap
kemewahan materi.


Prinsip hedonic treadmill adalah : more is better.
Makin banyak materi yang kamu miliki makin bagus. Jebakan nafsu yang
terus membuai. Makin banyak mobil yang kamu miliki, makin bagus. Makin
banyak properti yang kamu beli makin tajir. Godaan nafsu kemewahan yang
terus berkibar-kibar.


Gaya hidup minimalis punya prinsip yang berkebalikan : less is more.
Makin sedikit kemewahan materi yang kamu miliki, makin indah dunia ini.
Gaya hidup minimalis yang bersahaja punya prinsip : hidup akan lebih
bermakna jika kita hidup secukupnya. When enough is enough.


Prinsip hidup bersahaja, yang tidak silau dengan kemewahan materi, mungkin justru akan membawa kita pada kebahagiaan hakiki.


Sebab pada akhirnya, bahagia itu sederhana : misal masih bisa menikmati secangkir kopi hangat di Senin pagi


- See more at:
http://strategimanajemen.net/2014/11/03/fakta-ilmiah-mengejutkan-tentang-relasi-uang-dan-kebahagiaan/?utm_source=feedburner&utm_medium=feed&utm_campaign=Feed%3A+strategimanajemen+%28www.strategimanajemen.net%29#sthash.axMVJxOi.dpuf


Money can’t buy happiness. Begitu sebuah kata mutiara pernah terdengar. Apakah memang demikian adanya?


Tulisan kali mencoba menjelajah hasil studi saintifik yang mengulik
relasi rumit antara uang dan kebahagiaan. Dan seperti yang sebentar lagi
akan kita baca, hasilnya menyodorkan jawaban yang mengejutkan.


Kebahagiaan adalah sebuah tema penting dalam hidup. Uang juga
merupakan elemen krusial dalam kehidupan. Maka mari di pagi yang cerah
ini kita telusuri dua tema penting ini : uang dan kebahagiaan.


Studi empirik yang mencoba melacak korelasi uang dan kebahagiaan
sejatinya telah banyak dilakukan. Salah satunya yang terkenal, dilakukan
oleh Daniel Kahneman, pakar ilmu “financial psychology” yang juga
pemenang nobel ekonomi 2002.


Dalam risetnya itu ia menemukan fakta yang dikenal dengan istilah : income threshold. Inilah titik batas income yang akan menentukan apakah uang masih berdampak pada kebahagiaan atau tidak.


Sebelum income menembus titik threshold itu, maka uang punya peran
signifikan dalam menentukan kebahagiaan. Namun begitu income sudah
menembus batas threshold itu, maka uang tidak lagi punya makna dalam
menentukan kebahagiaan.


Lalu berapa titik income threshold itu? Dalam kajiannya yang
melibatkan ribuan responden di USA, angka batas income itu adalah USD
6000 per bulan.


(Dengan mempertimbangkan perbedaan biaya hidup, mungkin angka USD
6000 itu ekivalen dengan angka Rp 15 – 20 juta per bulan, jika diubah
dalam konteks Indonesia).


Penelitinya menulis : sebelum income menembus angka USD 6000 per
bulan, uang punya peran besar dalam menentukan level kebahagiaan
seseorang. Faktanya, beragam studi lain menyebut bahwa kondisi finansial
yang terbatas merupakan salah satu pemicu utama stress dan depresi.


Namun, begitu income responden melampaui USD 6000, maka peran uang
dalam membentuk kebahagiaan makin pudar dan pelan-pelan lenyap.


Artinya, orang dengan income USD 6500 misalnya akan memiliki level
kebahagiaan yang tidak berbeda dengan orang dengan income USD 60.000 per
bulan atau bahkan USD 6 juta per bulan.


Dalam konteks itulah benar jika ada yang menyebut : semakin kaya Anda, belum tentu makin bahagia. Studi Kahneman menegaskan : makin tinggi income Anda, ternyata justru makin menurunkan peran variabel uang dalam menentukan kebahagiaan.


Pertanyaannya : kenapa makin tinggi income seseorang, ternyata makin menurunkan peran uang dalam membentuk kebahagiaan?


Kajian-kajian dalam ilmu financial psychology menemukan jawabannya, yang kemudian dikenal dengan nama “hedonic treadmill”.


Gampangnya hedonic treadmill ini adalah seperti ini : saat gajimu 5
juta, semuanya habis. Saat gajimu naik 30 juta per bulan, eh semua habis
juga.


Kenapa begitu? Karena ekspektasi dan gaya hidupmu pasti ikut naik, sejalan dengan kenaikan penghasilanmu.


Dengan kata lain, nafsmu untuk membeli materi/barang mewah akan terus
meningkat sejalan dengan peningkatan income-me. Itulah kenapa disebut
hedonic treadmill : seperti berjalan diatas treadmill, kebahagiaanmu
tidak maju-maju. Sebab nafsu-mu akan materi tidak akan pernah
terpuaskan.


Saat income 10 juta/bulan, naik Avanza. Saat income 50 juta/bulan
naik Alphard. Ini mungkin salah satu contoh sempurna tentang jebakan
hedonic treadmill.


Hedonic treadmill membuat ekspektasimu akan materi terus meningkat.
Itulah kenapa kebahagiaanmu stagnan, meski income makin tinggi. Sebab
harapanmu akan penguasaan materi juga terus meningkat sejalan kenaikan
income-mu.


Ada eksperimen menarik : seorang pemenang undian berhadiah senilai Rp
5 milyar dilacak kebahagiaannya 6 bulan setelah ia mendapat hadiah.


Apa yang terjadi ? Enam bulan setelah menang hadiah 5 milyar, level
kebahagaiaan orang itu SAMA dengan sebelum ia menang undian berhadiah.


Itulah efek hedonic treadmill : karena nafsumu terus meningkat,
kebahagiaanmu seolah berjalan di tempat, meski income melompat 10 kali
lipat. Atau bahkan dapat hadiah 5 milyar.


Jadi apa yang harus dilakukan agar kita terhindar dari jebakan
hedonic treadmill? Lolos dari jebakan nafsu materi yang tidak pernah
berhenti?


Disinilah relevan untuk terus mempraktekan gaya hidup yang minimalis
yang bersahaja : sekeping gaya hidup yang tidak silau dengan gemerlap
kemewahan materi.


Prinsip hedonic treadmill adalah : more is better.
Makin banyak materi yang kamu miliki makin bagus. Jebakan nafsu yang
terus membuai. Makin banyak mobil yang kamu miliki, makin bagus. Makin
banyak properti yang kamu beli makin tajir. Godaan nafsu kemewahan yang
terus berkibar-kibar.


Gaya hidup minimalis punya prinsip yang berkebalikan : less is more.
Makin sedikit kemewahan materi yang kamu miliki, makin indah dunia ini.
Gaya hidup minimalis yang bersahaja punya prinsip : hidup akan lebih
bermakna jika kita hidup secukupnya. When enough is enough.


Prinsip hidup bersahaja, yang tidak silau dengan kemewahan materi, mungkin justru akan membawa kita pada kebahagiaan hakiki.


Sebab pada akhirnya, bahagia itu sederhana : misal masih bisa menikmati secangkir kopi hangat di Senin pagi


- See more at:
http://strategimanajemen.net/2014/11/03/fakta-ilmiah-mengejutkan-tentang-relasi-uang-dan-kebahagiaan/?utm_source=feedburner&utm_medium=feed&utm_campaign=Feed%3A+strategimanajemen+%28www.strategimanajemen.net%29#sthash.axMVJxOi.dpuf

Tidak ada komentar:

Posting Komentar